Sesepuh Masyarakat Timor, Beny Litelnoni mengungkapkan hal senada dengan keprihatinannya terhadap nasib rempah cendana di pulau Timor yang semakin terancam. Meski dia melihat ada beberapa kelompok tani yang sudah berinisiatif untuk budidaya kayu cendana, dan mulai berkembang. Hanya saja, perlu ada dukungan anggaran dari pemerintah.
“Sebelum zaman penjajahan Jepang, Belanda, dan Portugis sudah menemukan cendana di Timor sebagai rempah yang sangat bernilai, dan mahal harganya. Cendana ini akan punah karena adanya eksploitasi yang besar-besaran tanpa dibarengi budidaya, ” pungkas Wakil Gubernur NTT Periode 2013-2018 ini.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTT, Ondy Christian Siagian melalui Kepala Bidang PPH, Rudi Lismono mengutarakan, jumlah pohon induk cendana di NTT pada tahun 1987 sebanyak 182,898 pohon. Pada tahun 1997 mengalami penurunan menjadi 51.397 pohon, dan pada tahun 2013 jumlah pohon induk cendana bersisa 11.550 pohon.
Sedangkan pohon cendana usia muda pada tahun 2016 berjumlah 315.815 pohon, dan pada tahun 2017 bertambah menjadi 566.710 pohon, sehingga jika dijumlah keseluruhan maka jumlah populasi cendana di NTT mencapai 1.128.370 pohon.



Tinggalkan Balasan