“Teks-teks Ibrani dari masa Raja Sulaiman sekitar 950 Sebelum Masehi telah menyebut cendana yang mereka duga berasal dari India Selatan. Sebagaimana rempah, cendana juga sempat singgah di India, lalu dianggap berasal dari dataran itu. Padahal cendana terbaik hanya lahir di daerah kering seperti kepulauan Timor, bagian timur Nusantara. Oleh sebab itu, mengikuti para pedagang Nusantara, Arab, dan China, para pedagang Eropa juga turut datang ke wilayah Timor untuk menambang emas hijau beraroma wangi itu,” Kata Ketua Yayasan Penguatan Lingkar Belajar Komunitas Lokal NTT, Torry Kuswardono.
Pulau Timor pada abad ke-16 masehi terkenal sebagai satu-satunya sumber cendana terbaik di dunia. Bahkan berabad-abad sebelum itu, pedagang Cina dari Makau dan Hong Kong telah merambah Timor melalui jalur rahasia. Pilliot Lamster menulis bahwa perdagangan kayu cendana oleh orang Cina sudah dimulai pada awal abad masehi. O.W. Walters juga menyatakan hal yang sama, bahwa Cina telah berdagang dengan Timor sejak awal abad masehi.
“Selain pedagang-pedagang Cina, Timor juga telah disinggahi pedagang India dan menukar cendana, emas hijau dari Timor itu dengan kuda-kuda yang kemudian banyak berkembang biak di pulau Sumba. Dalam setahun, para pedagang India dan China datang ke Timor sebanyak dua kali dengan membawa cendana dari Timor untuk diperdagangkan di Malaka. Oleh penduduk Timor, pedagang Cina disebut dengan Sina Mutin Melaka (orang Cina berkulit putih dari Malaka),” jelas Torry.
Dalam perkembangannya masa jaya cendana, Emas Hijau dari Timor seolah terus memudar dari waktu ke waktu. Sebutan Nusa Cendana bagi tanah Timor semakin lama semakin tak terdengar lagi. Perubahan iklim yang semakin memanas juga menjadi tantangan tersendiri dalam usaha budidaya cendana putih, hingga tidak berjalan mulus. Jutaan bibit cendana yang ditanam di pelosok tanah Timor banyak mengalami kematian pada saat pucuk daun pohon cendana mulai mekar.
Rupanya upaya untuk meremajakan kembali cendana oleh pemerintah daerah sebagai ikon pulau Timor harus kita dukung secara bersama. Muhibah Budaya Jalur Rempah dengan pelayaran menggunakan KRI Dewaruci ini setidaknya menjadi petisi bagi kita semua yang berkepentingan untuk mengembalikan aroma wangi cendana, bersolidaritas bergerak bersama melestarikan ekosistem cendana, mengembalikan kejayaan NTT sebagai daerah penghasil cendana, sekaligus mendorong pemulihan ekologi dan kesejahteraan masyarakatnya. (*/KN)







Tinggalkan Balasan