Aspek kedua dalam gerakan pelestarian lingkungan hidup yaitu organisasi. Diskusi memunculkan peran struktur-struktur organisasi budaya dalam memajukan hidup bersama. Refleksi itu kemudian diperluas dalam rangka pembangunan dan gerakan pelestarian air dan hutan.

“Kita kemarin berbicara tentang konsep manggarai tentang telu likang pu’u yaitu Ase ka’e, anak rona, anak wina. Kita membawanya dalam konteks pembangunan pariwisata ini, ada masyarakat budaya, pemerintah dan agama atau gereja. Dengan tiga batu tungku ini kita bergerak ke depan. Tentu saja ada batu tungku lain, pat likang randang yaitu sekolah, LSM dan kelima yaitu organisasi-organisasi lain,” jelas Romo Ino Sutam.

Aksi menanam pohon menjadi aspek ketiga yang dapat dilihat sebagai level operasional dalam gerakan melestarikan lingkungan.

“Semua yang kita bahas kemarin mengenai konsep-konsep dan organisasi itu seperti akar, pohon yang tidak akan ada buahnya tanpa tindakan konkret. Karena itu, kemarin ada gagasan pembuatan aturan-aturan khusus yang menghargai lingkungan, pengelolaan sampah. Dan akhirnya hari ini kita bertindak, menanam pohon,” pungkas Romo Ino Sutam. (*)