Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat, kata Romo Ino Sutam, telah menggagas tujuh ramah dalam pengembangan pariwisata, yaitu ramah akan martabat manusia, ramah akan budaya lokal, ramah akan masyarakat lokal, ramah akan lingkungan hidup, ramah akan agama dan etika, ramah akan keadilan sosial, kerja sama dan transparansi, ramah akan teknologi yang manusiawi dan tepat guna.

“Kegiatan diskusi ekologi dan aksi penanaman pohon terkait dengan tujuh ramah itu, terutama ramah akan budaya lokal, partisipasi masyarakat lokal dan ramah akan ekologi. Mungkin tiga hal itu yang menjadi titik yang kuat dari kegiatan kemarin dalam rangka tahun pariwisata holistik 2022,” urai Romo Ino Sutam itu

Lebih lanjut ketua Komisi Pariwisata itu menjelaskan kegiatan selama dua hari itu menyentuh tiga aspek dalam gerakan pelestarian alam lingkungan, yaitu konsep, organisasi dan aksi. Pada tingkat konseptual, diskusi mengangkat cara pandang budaya dan masyarakat setempat terhadap alam lingkungan, khususnya air dan hutan.

“Kita memunculkan beberapa hal kuat dalam budaya. Misalnya, hutan itu ine ame, yang untuk kita adalah wakil tuhan di dunia. Air itu jiwa kita. Air itu berarti manusia sendiri yang tidak terlepas dari air. Selanjutnya, bertolak dari pemikiran Fransiskus Asisi dalam Laudato Si, kita juga dalam diskusi mengangkat konsep air sebagai saudara, bagian dari ibu pertiwi yang memberi kita asupan makanan dan minuman,” urai Romo Ino Sutam.