Tak cukup di situ melainkan dia pun mengajak semua yang hadir untuk segara menabung di Bank NTT dan memanfaatkan seluruh layanan jasa perbankan yang ditawarkan.

“Bank NTT itu bank kita. Maju dan mundurnya tergantung pada kita. Karena itu saya minta  kita semua untuk mendukung pembangunan daerah ini. Ini menunjukkan bahwa bapa mama memanfaatkan uang ini demi tujuan-tujuan produktif dan saya tidak yakin kalau nantinya uang yang dihasilkan, dipakai untuk tujuan yang tidak produktif,” tegasnya.

Berulangkali Ben Polo Maing berterimakasih kepada Bank NTT yang sudah sangat peduli kepada masyarakat, serta menghadirkan pelayanan justru membawa masyarakat ke sebuah era baru, yakni era digital.

“Itu makanya saya katakan sudah sepatutnya kita berterimakasih kepada Bank NTT. Mari kita terus dukung bank kebanggaan kita ini dalam kegiatan-kegiatan selanjutnya,” ungkapnya.

Wahyudi, selaku ketua komunitas pasar mengaku bangga dengan terobosan hebat yang dilakukan oleh Bank NTT.

“Saya punya teman dari luar, mereka sangat kaget ketika datang dan berbelanja, ternyata ada layuanan pembayaran E-money. Mereka kira kita terlalu di udik sehingga masih pakai uang lusuh, tapi hari ini tidak lagi karena sudah hampir 100 orang pedagang pasar disini yang pake QRIS. Datang, lihat barang, tawar, jika suka maka tinggal scan dan ketik nominalnya, selesai,” tegas Wahyudi bangga.