Pertanyaan pertama yang dilontarkannya kepada para pedagang adalah, dari mana komoditi ini berasal. Rupanya VBL ingin memastikan komoditi apa saja yang dihasilkan masyarakat lokal, berapa total produksinya serta potensi apa saja yang didatangkan dari kabupaten tetangga maupun dari luar NTT.

Setibanya di Lapak Nur yang dikelola oleh Siti Rahma, Gubernur Viktor berbelanja pepaya yang sudah ranum dan garam dapur seadanya dengan nilai transaksi Rp 200.000.

“Ibu memakai QRIS ini sejak kapan dan bagaimana manfaatnya bagi ibu,” tanya VBL dan langsung dijawab warga Kelurahan Ekasapta ini bahwa baru sebulan yang lalu.

“Saya baru saja difasilitasi layanan pembayaran QRIS dan bagi saya ini sangat bagus. Karena uangnya masuk langsung ke rekening tabungan, kita tunggu sudah banyak dulu baru ambil, sehingga hitung-hitung juga ini adalah tabungan,” jelasnya enteng.

Tak hanya di situ, Gubernur terus mengejarnya, seperti apa pola kemitraan yang dibangun oleh Bank NTT terhadap para pedagang pasar, termasuk Ibu Siti.
“Saya difasilitasi kredit oleh Bank NTT pak Gubernur. Namanya Kredit Merdeka, sudah dua tahun terakhir saya jadi nasabah,” jelasnya.