Sebagai penulis berasal dari NTT, pantas dan layak disebut sebagai penyair (sastrawan) NTT. Sebagai warga negara Indonesia yang menulis dalam bahasa Indonesia, Fritz Meko, SVD, pantas dan layak disebut sebagai penyair (sastrawan) Indonesia,” tandas Yan Sehandi.
Tersesat di Jalan yang Benar
Dosen Bahasa dan Satra Undana Kupang, Dr. Marsel Robot, M.Si mengaku, puisi-puisi Pater Fritz Meko, SVD berusaha mengarasemeni Injil Lukas dengan memberikan watak puitik, didandani dengan metafora, alegori, simbol. “Dengan begitu, kita dapat menerima makna melalui kenikmatannya,” katanya.
Menurut dia, membaca puisi seperti mengupas kulit bawang. Bakal sia-sia seorang mencari isi dari sesiung bawang. Sebab lanjut Marsel Robot, kulit itulah isinya. “Satu hal yang dianggap mudah ialah mencari penampakan penyair dalam puisi-puisinya. Kerap, jarak antara profesi penyair dan puisi hasil karyanya begitu dekat.
Pengalaman-pengalaman profesi mengilhaminya untuk berkarya. Dalam diri penyair terjadi semacam sublimitas (transformasi pengalaman menjadi ion-ion puitik dalam kata konotatif atau metaforik). Penyair atau sastrawan adalah orang yang terus diwanti dan disiksa oleh pengalamannya. Namun, ia merasa begitu nikmat dengan penyiksaan itu. Itulah yang membuatnya tak pernah berhenti bertengkar secara kreatif dengan realitas,” jelas doktor ilmu komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.





Tinggalkan Balasan