Pandang Injil secara Alternatif

Di tempat yang sama, dalam testimoninya Pater Fritz mengaku, karya yang baik hanya mungkin ditopang oleh ketekunan, kesetiaan dan habitualisasi. Sembari mengutip pendapat filsuf Yunani Aristoteles, Pater Fritz mengatakan, “Kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Maka, keunggulan bukanlah tindakan, melainkan kebiasaan.”

“Saya akhirnya menganggap bahwa menulis Sang Mesias merupakan suatu “tuntunan” untuk mencoba memandang Injil secara alternatif. Saya tidak bermaksud membuat “Profanasi” Injil Suci – tetapi hanya mau membuka saluran alternatif refleksi dengan bertanya : bolehkah sejarah hidup dan karya Yesus dinarasikan dalam bentuk puisi? Apakah saya tidak akan mendapat sanksi dari gereja dan pengadilan dari umat Kristen karena menyadur injil dalam bentuk puisi?” ucap Pater Fritz, dengan nada tanya.

Pertanyaan ini lanjut alumnus Kairos Saint Patrick University – Ireland, ternyata tidak mengamputasi niatnya untuk berani mempublikasikan Sang Mesias. “Untuk ini semua, saya ucapkan banyak terima kasih, khusunya kepada Gubernur NTT, Bapak Dr. Viktor Laiskodat, SH, M.Si yang berkenan hadir mengikuti acara ini,” ucap Pater Fritz.

Pendeta Dr. Nelman A. Weny, M.Th yang membedah Buku Sang Mesias dari perspektif Teologis mengaku, tulisan-tulisan Pater Fritz terus mengalir laksana air sungai yang tak pernah kering.