Pengalaman-pengalaman profesi mengilhaminya untuk berkarya. Dalam diri penyair terjadi semacam sublimitas (transformasi pengalaman menjadi ion-ion puitik dalam kata konotatif atau metaforik). Penyair atau sastrawan adalah orang yang terus diwanti dan disiksa oleh pengalamannya. Namun, ia merasa begitu nikmat dengan penyiksaan itu. Itulah yang membuatnya tak pernah berhenti bertengkar secara kreatif dengan realitas,” jelas doktor ilmu komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.

Keraguan murid-murid Mesias, ungkap Marsel Robot merupakan tanda yang merepresentasi watak manusia. Namun, keraguan sangat dibutuhkan untuk mengetahui entitas dan eksistensi kenabian Sang Mesias.

“Negasi-negasi yang didandani oleh metafora, alegori memuculkan semacam katekese merayap ke dalam ruang refleksi untuk kembali bertanya Siapakah Aku ini? Pertanyaan ini dikembalikan oleh Sang Mesias kepada kita. Dan kita yang bergabung dengan para murid telah tersesat di jalan yang benar,” ujar Marsel, sambil tersenyum. (*/Verry Guru)