“Setiap perjumpaan dan diskusi, bahkan dalam perjalanan, pasti lahir tulisan-tulisan reflektif-kontemplatif. Karena itu, Pater Fritz layak disebut sebagai sastrawan NTT yang memiliki reputasi nasional,” puji Pendeta Nelman.
Dengan tulisan-tulisannya yang amat apik sebagai muara dari pemikiran yang bernas dan imaginasi kreatifnya yang luar biasa, sebut Pendeta Nelman, maka Pater Fritz layak disejajarkan dengaan Gerson Poyk, Umbu Landu Paranggi, A.G. Hadzarmawit Netti, Pdt. Abe Poli, Damian N. Toda, Maria Matildis Banda, Yohanes Sehandi, Fanny Jonathan Poyk, Mezra Pellondou.
Menurut Pendeta Nelman, Buku Sang Mesias merupakan, renungan Pater Fritz dalam upaya berteologi dengan gaya puitis. “Karena itu, patut diapresiasi. Antologi ini hanyalah sebuah tawaran bagi pembaca agar merenungkan kisah Mesias dalam Injil Lukas dengan kacamata puisi,” papar alumnus STT Jakarta yang juga dosen Pascasarjana IAKN Kupang.
Kritikus sastra NTT, Drs. Yan Sehandi, M. Si menilai Pater Fritz Meko, SVD, adalah salah seorang penulis yang pantas dan layak disebut sebagai penyair. “Sebagai penulis kelahiran Timor, beliau pantas dan layak disebut sebagai penyair (sastrawan) Timor.





Tinggalkan Balasan