Beberapa waktu lalu jagat media sosial ramai mengkritisi perihal item pekerjaan jalan Bonleu yang tak muncul dalam dokumen APBD Tahun 2022. (SuaraTTS. Com 01/03/2022) 

Selain itu, pada bulan yang sama kasus pemukulan sopir ambulance oleh wakil bupati TTS. (Kompas.com 03/06/2022) 

Kesan singkat saat mendengar dan membaca berbagai komentar tentang berbagai kasus  tersebut adalah aura pesimisme yang ada di masyarakat mengenai kondisi politik TTS belakangan ini. 

Dari hari ke hari, masyarakat kita membaca berita, dan diam-diam berdiskusi tentang berbagai kasus yang sedang terjadi. Satu kesimpulan mereka bahwa politik TTS sangatlah kacau. Pejabat publik setiap hari berubah pendapat. Hari ini A keesokannya B.

Bupati dilaporkan ke polisi oleh sejumlah anggota DPRD. Wakil bupati pun dilaporkan ke polisi akibat kasus pemukulan. Belum lagi sejumlah permasalahan di TTS yang belum selesai. Pesimisme politik akhirnya tercium harum di udara kabupaten kita.

Pertanyaannya, apakah kita berhak untuk pesimis menanggapi kehidupan politik di daerah kita? Apakah tidak ada sudut pandang yang lain?

Pesimisme Politik 

Pesimisme berakar pada hilangnya kepercayaan dan sulitnya tantangan. Kepercayaan itu lenyap karena pengalaman pengkhianatan, sesuatu yang sudah begitu familiar bagi masyarakat TTS. Sejarah kita penuh dengan pengkhianatan. Mulai dari politik Belanda yang berpura-pura berdagang lalu menjajah, sampai dengan janji-janji para pemangku kepentingan yang berbuih indah namun miskin penerapan nyata.

Pesimisme juga berakar pada besarnya tantangan yang dihadapi, terutama pada era reformasi sekarang ini. Birokasi pemerintahan yang kaku dan miskin inivasi masih membuat masyarakat kita tercekik. Selain itu, perilaku para politikus yang kian hari kian menimbulkan pertanyaan terhadap kredibilitas dan reliabilitas mereka. Dengan situasi seperti itu, harapan masyarakat untuk hidup yang lebih baik seakan  jauh dari genggaman. 

Dalam situasi itu masyarakat kita punya hak sepenuhnya untuk merasa pesimis. Beberapa kalangan sudah tidak lagi peduli dengan