Setelah melihat situasi konkret yang terjadi, Romo Beben kemudian mengajak peserta untuk merefleksikannya dalam terang kisah penciptaan. Bahwasannya, alam dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, telah diciptakan Allah baik dan sempurna adanya. Ini menjadi dasar panggilan kita untuk menjaga, merawat dan memelihara alam dan keutuhan ciptaan. Dalam inspirasi Laudato Si, sikap yang paling penting dan mendesak adalah pertobatan ekologis.

“Kita perlu berikhtiar bersama untuk membentuk habitus baru dalam cara pandang dan sikap kita terhadap alam. Itu bisa dilakukan melalui promosi-promosi yang disampaikan melalui media sosial dan aksi konkret membuang sampah pada tempatnya, melestarikan hutan, menanam pohon pada tanah-tanah yang tandus,” cetusnya.

Literasi ekologi diakhiri dengan pengucapan ikhtiar dan janji dari peserta yang diwakili oleh dua orang utusan setiap tingkat untuk menjaga, merawat dan memelihara kelestarian alam dan keutuhan ciptaan melalui aksi-aksi konkret seperti membersihkan sampah, penghijauan, dan lain-lain.