Semua bentuk perlakuan kekerasan dan tindakan pelecehan seksual terhadap anak kata dia, merupakan pelanggaran hukum dan bisa dipidanakan lantas banyak orang (dewasa) belum sadar akan tanggung jawab mereka untuk mengambil bagian dalam upaya-upaya konkret mengadvokasi hak-hak dasar anak. Untuk itu, pihaknya memperkenalkan referal system berkaitan dengan penanganan ketika terjadi kasus kekerasan terhadap anak.

“Salah satu cara konkret untuk memutus mata rantai perilaku kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak adalah jangan menjadi pelaku kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak, dan aktif menjadi pelapor kasus kekerasan terhadap anak melalui JPIC Keuskupan Ruteng,” ujarnya.

Pada sesi ke dua yang bertemakan kesadaran ekologi, Romo Beben Gaguk membedah Ensiklik Laudato Si dengan metode 3 M ( Melihat – Menilai – Memutuskan ).

“Persoalan lingkungan hidup terjadi di sekitar kita dan menjadi bagian dari pergumulan kita bersama. Kita sungguh merasakan akibat dari krisis ekologi yang terjadi sekarang, seperti kekeringan, banjir, tanah longsor, dan lain-lain. Dalam konteks ini, Paus Fransiskus melihat akar manusia yang sangat kuat dari krisis ekologi yang terjadi sekarang,” katanya.

Setelah melihat situasi konkret yang terjadi, Romo Beben kemudian mengajak peserta untuk merefleksikannya dalam terang kisah penciptaan. Bahwasannya, alam dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, telah diciptakan Allah baik dan sempurna adanya. Ini menjadi dasar panggilan kita untuk menjaga, merawat dan memelihara alam dan keutuhan ciptaan. Dalam inspirasi Laudato Si, sikap yang paling penting dan mendesak adalah pertobatan ekologis.

“Kita perlu berikhtiar bersama untuk membentuk habitus baru dalam cara pandang dan sikap kita terhadap alam. Itu bisa dilakukan melalui promosi-promosi yang disampaikan melalui media sosial dan aksi konkret membuang sampah pada tempatnya, melestarikan hutan, menanam pohon pada tanah-tanah yang tandus,” cetusnya.

Literasi ekologi diakhiri dengan pengucapan ikhtiar dan janji dari peserta yang diwakili oleh dua orang utusan setiap tingkat untuk menjaga, merawat dan memelihara kelestarian alam dan keutuhan ciptaan melalui aksi-aksi konkret seperti membersihkan sampah, penghijauan, dan lain-lain.