“Pada pengelolaan sektor pariwisata, untuk mewujudkan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super prioritas,  telah dilakukan kerjasama dalam bentuk nota kesepahaman antara Pemerintah Provinsi  NTT dengan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk memperkuat tata kelola fungsi kawasan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara berkelanjutan di Taman Nasional Komodo,” ujar Wagub.

Selanjutnya, dalam sektor perikanan dan kelautaan, Wagub mengatakan Sejak 2018 telah dikembangkan budidaya ikan kakap putih dan kerapu di Kawasan Mulut Seribu-Rote Ndao untuk mendukung pengembangan pariwisata di daerah tersebut, melalui penyediaan 3 unit keramba dengan jumlah benih ikan yang ditebar sebanyak  9.000 ekor serta 1 unit rumah jaga dan 1 unit bagan kelong. Selain di Rote Ndao, budidaya perikanan juga dilaksanakan di Wae Kelambu, Kabupaten Ngada. Pada awal Tahun 2020 telah ditebar 1 juta ekor benih kerapu untuk pemberdayaan masyarakat yang berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten Ngada dengan Kabupaten Manggarai Timur.  “Guna menunjang budidaya perikanan di kedua lokasi tersebut, diharapkan masing-masing Pemerintah Kabupaten memberdayakan BUMD, BUMDes maupun koperasi untuk memproduksi pakan ikan sendiri dengan memanfaatkan potensi setempat dengan pola padat karya,” kata dia.

“Juga telah dilakukan pilot project budidaya ikan kerapu di Pulau Semau dengan 9 (Sembilan) Unit Keramba Jaring Apung Bulat. Sampai dengan saat ini telah dilakukan 2 (dua) kali panen dengan total  2 (dua) ton ikan kerapu hidup yang telah di ekspor ke Hongkong dan juga kini telah dikembangkan budidaya lobster di Mulut Seribu Rote-Ndao. Sementara itu rumput laut juga terus dikembangkan sebagai salah satu komoditi andalan dari sektor kelautan yang menjanjikan dan pada tahun 2021, Pemerintah telah memberikan bantuan hibah peralatan dan bibit rumput laut kepada 1.338 pembudidaya,” paparnya.

“Potensi garam di NTT didukung dengan kualitas kadar NaCl mencapai 96 % sebagai garam industri.  Kabupaten Kupang memiliki lahan garam 900 hektar yang telah beroperasi sejak Agustus 2019 dengan kapasitas  150 ton/hektar. Saya berharap agar kabupaten lainnya yang memiliki potensi lahan garam untuk segera mengoptimalkan sehingga produksi garam NTT dapat memberikan kontribusi menyokong pemenuhan kebutuhan garam nasional,” harap Wagub.