“Tidak berarti melawan alam, tetapi berkembang bersama seiring dengan proses-proses yang terjadi di alam,  memanfaatkan sumber daya alam sesuai dengan karakteristik wilayah sehingga tidak mengubah dan atau meningkatkan laju atau intensitas proses-proses di alam,” jelas Prof. Junun. 

Ia menambahkan, carut marut erosi dan longsor bermula dari tiga hal yakni kurangnya pemahaman proses yang kompherensif, urutan proses, urutan skala pemetaan, atau cakupan wilayah, dan urutan pengelolaan atau penanganan.

Sementara Ketua STIPER Flores Bajawa Dr. Nicolaus Noywuli menyampaikan bahwa lahan sebagai sumber tempat hidup, mesti dipelajari dan kelola secara berkelanjutan. 

“Untuk di Kabupaten Ngada dan NTT pada umumnya,  ada kultuatif iklim, tingkat kelerengan lahan atau wilayah  pada umumnya dengan kelerengan yang cukup tinggi, penanggulangan vulkanik,  tingkat kesuburan,  dan pengetahuan masyarakat petani dalam hal mengelola lahan masih sangat tradisional, serta produktivitas belum menjadi target,” jelasnya.

Oleh karena itu, kata Dr. Nicolaus, kehadiran tim ahli dari pusat studi Agroekologi dan sumber daya lahan UGM merupakan bentuk dukungan terhadap lembaga SRIPER Flores Bajawa dalam mempelajari pengembangan sumber daya lahan secara berkelanjutan.

Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus Yasukda Ngada, pimpinan Stiper Flores Bajawa, Ketua LPMAI Stiper Flores Bajawa,  rombongan tim Ahli Pusat Studi Agroekologi dan sumber daya lahan UGM,  Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ngada, dan seluruh mahasiswa, dosen dan pegawai STIPER Flores Bajawa.  (*)