KUPANG, KN – Suasana penuh syukur dan kidung pujian membubung tinggi dari Kapela Monastero Santa Maria Delle Grazie, Sikumana, Kota Kupang, pada Selasa sore,(7/7). 

Mulai pukul 16.30 WITA, komunitas biara bersama umat Allah berkumpul dalam kesalehan yang mendalam untuk merayakan Perayaan Syukur 25 Tahun Pesta Perak Kaul Monastik dua orang suster, yakni Sr. Maria Scolastica Nuwa OSB dan Sr. Maria Grazia Wona OSB.

Perayaan Ekaristi Kudus yang berjalan dengan khidmat ini menandai fase perak kesetiaan kedua suster Ordo Santo Benediktus (OSB) tersebut dalam meniti panggilan hidup kontemplatif. 

Selama seperempat abad dalam kesunyian membiara, doa yang tiada putus, serta kerja tangan yang tulus (Ora et Labora), mereka telah mempersembahkan seluruh hidup demi kemuliaan Allah dan keselamatan dunia.

Perayaan Ekaristi Kudus ini dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni. Dalam khotbahnya, beliau memberikan peneguhan serta apresiasi yang mendalam atas keteguhan hati kedua suster yubilaris yang mampu melewati tantangan zaman dalam kesunyian biara klausura.

“Dua puluh lima tahun kaul monastik bukanlah sekadar hitungan waktu, melainkan sebuah monumen kesetiaan yang ditopang oleh rahmat ilahi. Kehadiran para suster yang mendedikasikan hidupnya dalam doa dan keheningan adalah berkat tak terhingga bagi Keuskupan Agung Kupang,”ungkap Mgr. Hironimus Pakaenoni dalam masa perenungan syukur tersebut.

Dalam khotbah perenungan syukur, ditekankan bahwa dua puluh lima tahun kaul monastik bukanlah sekadar hitungan waktu, melainkan sebuah monumen kesetiaan yang ditopang oleh rahmat ilahi. 

Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, kehidupan monastik di biara Sikumana ini terus menjadi sauh rohani yang menguatkan iman umat lewat doa-doa hening.

Para hadirin yang terdiri dari kaum klerus, biarawan-biarawati dari berbagai tarekat, serta keluarga dekat dan umat, tampak larut dalam kekhusyukan ibadah. 

Kapela Monastero Santa Maria Delle Grazie dihias dengan indah namun bersahaja, memancarkan spiritualitas Benediktin yang khas, yang mengutamakan kedalaman batiniah di atas kemewahan lahiriah.