Upacara pembaruan janji kaul menjadi momen paling mengharukan dalam perayaan ini. Di hadapan altar suci, Sr. Maria Scolastica Nuwa OSB dan Sr. Maria Grazia Wona OSB kembali mengikrarkan komitmen mereka untuk tetap setia pada kaul ketaatan, stabilitas tempat (stabilitas loci), dan konversi hidup (conversio morum) sesuai dengan Regula Santo Benediktus.
Usai perayaan ekaristi, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana bersama seluruh undangan sebagai wujud persaudaraan dan sukacita bersama.
Perayaan pesta perak ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tidak takut menjawab panggilan Tuhan, khususnya dalam menjalani kehidupan membiara.
Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, menggarisbawahi pentingnya peran biara kontemplatif sebagai pilar rohani yang menopang gerak langkah keuskupan. Keheningan biara bukanlah bentuk pengasingan diri yang pasif, melainkan cara mengasihi dunia secara lebih mendalam melalui jalur spiritual.
“Kehidupan kontemplatif suster-suster kita adalah jantung spiritualitas bagi keuskupan ini. Di saat dunia sibuk mencari kepuasan lahiriah, dari kapela ini mengalir doa-doa malam dan siang yang menopang perjalanan iman kita semua,” ujar Mgr. Hironimus Pakaenoni menegaskan esensi panggilan monastik tersebut.
Ibadat pembaruan kaul yang berlangsung sejak sore hari tersebut berjalan dengan penuh nuansa Benediktin yang kental. Kehadiran biara monastik ini di Sikumana senantiasa dipandang umat sebagai oase rohani tempat mereka menimba ketenangan batin, kekuatan doa, dan teladan keteguhan iman yang nyata dari para biarawati yang mendedikasikan hidupnya secara penuh. (agn)







Tinggalkan Balasan