Ia menyebut, masyarakat dapat menilai kejadian itu dengan presepsi mereka masing-masing. Namun dengan kehadiran pekerja media, Wilhelmus yakin bahwa masalah itu dapat diluruskan.

Sebagai pimpinan SMK Sadar Wistata Ruteng, dirinya tidak akan menyetujui anak didiknya melakukan tawuran dengan sekolah lain. Karena pihaknya baru saja menyampaikan kampanye anti perundangan atau kekerasan kepada para siswa.

“Masa saya harus menyetujui anak saya untuk tawuran. Kan nanti berbanding terbalik dengan apa yang kami kampanyekan tadi. Kami juga sudah nyaman, karena masalah ini sudah diserahkan ke polisi. Kami tidak mau ambil tindakan sendiri, sebab tidak ingin melangkahi aparat hukum,” ungkapnya.

Dia menyebut, para guru dan pegawai sekolah berupaya untuk mengarahkan siswa-siswinya bahwa tawuran bukan hal yang baik, dan memiliki dampak yang sangat buruk terhadap masa depan mereka. Sehingga tidak terjadi hal serupa di kemudian hari.

Selain itu, pihaknya akan mencari tahu awal mula terjadi tawuran, karena sekolah belum mengetahui data lengkap. Sehingga akan dilakukan koordinasi lintas sekolah untuk mencari kepastian informasi, serta solusi dari kasus yang sekarang menjadi sorotan publik.