Melalui rangkaian pelatihan, bimbingan teknis, dan pendampingan intensif oleh Reef Check Indonesia, BKKPN Kupang, Disparekraf NTT, dan pihak terkait lain, Pokdarwis di Desa Naiken, Desa Oeseli, dan Desa Bo’a sedang dipersiapkan untuk mempunyai kemampuan mengorganisasi dan mendampingi wisatawan dengan praktik yang ramah lingkungan dan dikelola langsung oleh masyarakat.
Sedangkan di Perairan Sulamu – Semau sendiri sudah terbentuk komunitas untuk mendampingi WSBM (dalam hal ini spesies lumba-lumba) bernama komunitas Bukan Sekedar Pasiar (atau disingkat dengan BSP). Komunitas BSP mempunyai slogan sendiri untuk memasarkan atraksi wisatanya yaitu “Home of Cetacean, Kitong Pu Pulau, Kitong Pu Masa Depan”.
Selain untuk memasarkan atraksinya, slogan tersebut juga digunakan oleh BSP sebagai kampanye usaha konservasi di Perairan Teluk Kupang. Slogan ini juga sangat tepat untuk menggambarkan saling ketergantungan antara ekonomi jangka panjang dan sehatnya ekosistem.
Sumber daya perikanan laut sangat tergantung kepada sehatnya ekosistem pesisir. Lumba-lumba memakan ikan-ikan yang sakit sehingga mereka menjadi kesehatan populasi ikan secara keseluruhan. Manta memakan plankton dari laut dalam. Mereka kemudian bermigrasi ke perairan dangkal dan membuang kotoran yang penuh nutrisi
yang berfungsi seperti pupuk untuk terumbu karang.



Tinggalkan Balasan