“Dari total aset yang saya sampaikan tadi, sekarang Bank NTT berada pada angka Rp17 Triliun, maka Bank NTT ada di peringkat 15 dari total 25 BPD di seluruh Indonesia. Sementara kinerja dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga, Bank NTT mencatatkan Rp 13 Triliun sehingga dengan demikian, Bank NTT ada di posisi 16. Jumlah penyaluran kreditnya mencapai Rp11 Triliun sehingga dari 25 BPD se-Indonesia, Bank NTT berada pada posisi ke-15,” beber Robert lagi.

Mengacu pada catatan-catatan kinerja positif ini, OJK menyatakan bahwa Bank NTT sedang dalam kondisi baik. “Jadi tentu ini hal yang baik, selain itu kami juga mencatat ratio-ratio keuangan seperti kecukupan permodalan itu Bank NTT berada di angka 23,11 ini sebuah angka yang baik, sementara rata-rata groupnya 23,19. Dan juga satu pencapaian yang cukup baik yang kami apresiasi tahun ini, manajemen Bank NTT dapat menurunkan tingkat NPL-nya (Non Performing Loan/kredit macet) ke angka 2,59 persen,” tegas Robert.

OJK berharap agar ke depan selain pertumbuhan kredit didorong untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, juga diharapkan agar setiap tahapan dilakukan secara berkualitas dan OJK sebagai regulator dan pengawas lembaga jasa keuangan akan terus mendorong komitmen-komitmen tersebut.

“Salah satunya bagaimana kita ketahui seluruh perbankan khususnya bank umum sedang berupaya untuk memenuhi modal inti minimum harus mencapai Rp 3 Triliun pada akhir tahun 2024. Untuk itu kami terus mendorong manajemen dan pemilik dalam hal ini Pemerintah Daerah untuk mendorong pertumbuhan modal inti di Bank NTT ini,” terangnya.

Lebih jauh Robert merincikan, ada dua faktor yang merubah kondisi perbankan akhir-akhir ini yakni kondisi pandemi COVID 19, dan yang kedua, disrupsi teknologi. Dalam dunia perbankan menurutnya, bank bukan gedungnya, tetapi bank adalah pelayanannya.

“Jadi, sudah disampaikan apa-apa yang dilakukan oleh Bank NTT untuk mengantisipsi tantangan kedepan,”tegas Robert menambahkan, “Pada kesempatan ini saya ingin menggarisbawahi bagaimana Bank NTT ikut mendorong jasa dan layanannya memasuki layanan berbasis digital. Untuk itu kami sudah meluncurkan blue print transformasi digital perbankan untuk merespon pertumbuhan memasuki era revolusi industri 4.0 yang sudah berkembang,” jelasnya.