Tentu ini sejalan dengan Bank NTT yang ada di dalamnya. OJK menurut Robert, mencatat Bank NTT secara tahunan sampai September ini asetnya sedikit menurun, Rp0,22 Triliun atau minus 1. Baginya ini disebabkan karena adanya penurunan penghimpunan dana pihak ketiga. Penyerapan biro kas daerah dan seterusnya ini menyebabkan penghimpunan dana  pihak ketiga turun Rp0.73 Triliun.

“Tapi yang menarik, kredit di Bank NTT ini pertumbuhannya lebih tinggi dari pertumbuhan nasional. Kredit bisa tumbuh 5,25 % atau Rp0.56 Triliun sementara secara regional NTT tumbuh Rp2,57 Triliun. Dan secara nasional kredit tumbuh 2,21 % Bank NTT bisa meningkat 5,25 %. Tentunya ini kami juga apresiasi karena kita menetapkan target pertumbuhan kredit tahun 2021 ini mencapai 7%,” tegas Robert disambut tepukan tangan undangan.

Kinerja Bank NTT jika disejajarkan dengan BPD lain di seluruh NTT, maka Bank NTT dapat dikategorikan BPD dengan predikat cukup baik. Ini tak lain disebabkan karena Bank NTT berada pada posisi di tengah.