Di tengah pandemi COVID-19, Fahmi mengaku bisnisnya justru mengalami pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Karena bisnis yang digelutinya bergerak pada sektor sembako. Namun, secara keseluruhan, keuntungannya sedikit menurun karena margin sembako tidak sebesar harga produk lain.

“Memang keuntungan kita menurun. Tetapi barangnya cepat laku. Karena bidang bisnis saya kan bergerak di jualan sembako, jadi di masa pandemi ini, orang mungkin menunda untuk beli fashion, elektornik dan kebutuhan lainnya. Tetapi kalau makanan, tidak ada orang yang tunda. Pasti mereka beli,” ungkapnya.

Untuk mempermudah costumer Jabal Mart di masa pandemi, pihaknya menyiasati sejumlah strategi, yaitu melakukan penjualan secara online dengan melakukan pembayaran secara tunai atau COD (Cash On Delivery) dan menggunakan aplikasi QRIS (Quick Respons Code Indonesian Standard).

“Jadi di tengah pandemi, costumer kita cukup di rumah saja. Barangnya nanti kita kirimkan. Ketika produknya tiba, mereka bisa langsung bertransaksi dari rumah menggunakan aplikasi Qris,” terannya.

Program Marketing Langit

Menjadi seorang pengusaha sukses, Fahmi Abdulah ternyata memiliki beberapa tips unik yang dilakukan. Salah satunya adalah program marketing langit. Program ini telah dilaksanakan di kala pandemi COVID-19 melanda Nusa Tenggara Timur awal tahun 2020.

“Seperti di Jabal Mart Kefa dan Atambua, masyarakat belanja makanan tetapi bayarnya menggunakan doa. Kita juga bagikan ke gereja, masjid dan pura, dengan program marketing langit. Jadi apapun agamamu, tolong doakan Jabal Mart,” jelasnya kepada wartawan.

Dengan program Marketing Langit, Fahmi mengaku sangat bersykur, karena di tengah himpitan ekonomi, Tuhan selalu memberikan solusi yang terbaik untuknya, dan semua manusia yang masih hidup di muka bumi.

CEO Jabal Mart, Fahmi Abdulah menyampaikan saat ini, ia telah mempekerjakan 200 orang karyawan yang tersebar di Jabal Mart Kefa, Atambua dan Kupang. Setiap bulan, ia mengeluarkan anggaran sebanyak Rp400 juta untuk membayar gaji seluruh karyawannya.