“Karena di Puskesmas Wae Codi masih keterbatasan peralatan medis dan obat-obatan. Sedangkan RS Ruteng diyakini mendapat pelayanan yang lebih maksimal,” jelas RU menirukan pernyataan salah satu petugas.
Mirisnya, petugas medis meminta bayaran sebesar Rp300.000 kepada keluarga pasien sebagai biaya transportasi untuk merujuk pasien ke RSUD Ruteng, menggunakan mobil Ambulance milik Puskesmas.
“Mereka bahkan mengancam, jika tidak mau bayar atau menggunakan mobil dan sopir lain, maka keluarga urus sendiri pasiennya, tanpa pendampingan tenaga medis,” ungkapnya.
Ru menuturkan, pihak keluarga langsung menyetujui pertmintaan tersebut karena mengingat kondisi Anita yang semakin parah. Namun, keluarga disuruh untuk memanggil supir Ambulance di kediamannya, karena tidak berkantor tanpa alasan yang jelas.
“Atas saran petugas, keluarga langsung mendatangi rumah sopir Ambulance yang beralamat di Podor, Desa Timbu. Setelah berulangkali mengetok pintu, ternyata tidak ada jawaban dari dalam rumah, dan akhirnya mereka kembali ke Puskesmas,” terangnya.



Tinggalkan Balasan