Seandainya pula kesalahan ini ditemukan dalam media sosial seperti Facebook, mungkin tidak jadi soal berat. Sebab, penerbitan tulisan di media sosial hanya melalui pertimbangan pribadi pemilik akun atau penulis.
Kesalahan dalam penggunaan awalan di dan kata depan di memang kerap disepelekan, baik oleh penulis sendiri maupun oleh redaktur. Kesalahan semacam ini memang kecil, namun akibatnya sangat fatal. Terutama pengaruhnya terhadap pembaca.
Dosen saya pernah bilang bahwa ia punya sensitivitas tinggi terhadap kesalahan hal kecil semacam itu. Ketika ia menemukan kesalahan semacam itu dalam tulisan mahasiswa, semangat membacanya akan hilang seketika dan sudah pasti tidak akan membacanya lagi.
Demikian halnya dalam membaca tulisan media massa, pembaca akan kehilangan nafsu membaca apabila menemukan kesalahan kecil yang kasat mata. Apalagi pembaca yang punya sensitivitas tinggi terhadap kesalahan semacam itu. Sangat disayangkan, apabila tulisan dengan tema menarik serta gagasan yang cemerlang, tiba-tiba diabaikan oleh pembaca hanya karena kesalahan-kesalahan kecil semacam itu.
Bagi para penulis, sebaiknya jangan bersikap buru-buru dalam menghasilkan tulisan. Menulislah dan perhatikan kata demi kata, jangan biarkan kesalahan kecil seperti kesalahan penempatan awalan di dan kata depan di, juga kesalahan aspek formal yang kasat mata pada umumnya.
Jadikanlah media sosial, facebook dan sejenisnya sebagai media ekspresi dan penyebarluasan informasi yang menggunakan bahasa tulis secara tepat. Dengan demikian kita bisa dan terbiasa dalam berbahasa tulis yang benar.*







Tinggalkan Balasan