Kedua, menimbulkan kenakalan. Terlalu berlebihan juga apabila mengklaim bahwa media sosial menjadi biang kerok penyebab berbagai kenakalan yang timbul akhir-akhir ini. Perihal kenakalan, sejarah telah mencatat bahwa kenakalan telah tumbuh sekian jauh sebelum munculnya berbagaia media komunikasi modern seperti yang dikenal sekarang ini. Namun, melihat perkembangan dari media komunikasi seperti media sosial yang begitu pesat dewasa ini, dan juga kemungkinan yang disiapkan oleh media sosial dapat diakui juga bahwa media sosial pun memberi dampak instan timbulnya berbagai kenakalan di tengah masyarakat khususnya kaum remaja. Kaum remaja begitu rutin menonton segala video ataupun membaca kasus-kasus di media sosial membuat mereka juga ikut terpengaruh. Mereka dapat dengan mudah meniru berbagai tawuran kenakalan yang senantiasa dilihat atau didengar dari media sosial. Tak jarang media sosial pun sering menurunkan berbagai informasi seputar tawuran kaum remaja. Seperti yang diunggah oleh media online TEMPO.CO pada 21 Juli 2020 tentang Tawuran di Depok, Seorang Pelajar Kritis Terkena Luka Bacok. Kasus ini berawal dari aksi saling tantang di media sosial. Salah seorang pelajar SMK Yadika 12 Depok diajak oleh teman satu sekolahnya untuk ikut dalam aksi tawuran tersebut. Akibat saling tawur ini seorang pelajar menjadi korban dan sebagianya telah diaman di kantor polisi. Sungguh kehadiran media sosial bisa merubah pola tatanan dalam kehidupan kaum remaja saat ini. Media sosial hadir dengan berbagai situs membuat kaum remeja tenggelam dalam medium ini.
Maraknya pengaruh (negatif) media sosial bagi kaum remaja, menjadi perhatian khusus dari orang tua sendiri. Orang tua sebagai figur, monitor, dan pengendali dalam penggunaan media sosial secara bijak dan bertanggungjawab, akan menjadi contoh baik bagi kaum remaja itu sendiri. Orang tua harus memberikan penjelasan sejak dini perihal menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Orang tua dengan tegas melarang kaum remaja untuk tidak menggunakan media sosial saat makan bersama, belajar, menginstal aplikasi-aplikasi berbau negatif, dan kesempatan bersama lainnya. Orang tua bukan saja hanya melarang tapi juga kontrol aktivitas kaum remaja agar mereka tidak terbelenggu sehingga masa depan remaja menjadi cerah dan berguna bagi keluarga.







Tinggalkan Balasan