“Saya hobi sejak usia 6 tahun, karena lingkungan sekitar juga banyak bengkel mebel jadi sangat mendukung. Selain itu, saya juga belajar dari seorang Pendeta Gereja Pentekosta di Lembor, yang mampu beli tanah dan membuat rumah dari hasil kerjanya itu,” tutur Anton.

Selain bekerja di bengkel milik kakanya, ia juga menyempatkan diri untuk belajar menjadi tukang bangunan di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, sebelum diterima di SMAK Setia Bahkti Ruteng tahun 2009.

“Saat itu saya kerja bangunan bersama orang Jawa di lokasi dekat bandara. Saya kerja ayak pasir, pasang batu bata, campur semen hingga pasang keramik,” kata dia.

Sambil bekerja, Anton memasukan lamarannya di SMAK Setia Bahki, dan selang dua hari, dia diterima menjadi salah satu guru di sekolah tersebut. Menurutnya, menjadi seorang guru hanya mengupdate kembali pengetahuan yang pernah didapatkan di bangku kuliah.

“Setelah pulang sekolah, saya tetap menjalani profesi saya sebagai seorang tukang mebel, artinya mencari peluang lain sehingga kebutuhan saya bisa terpenuhi. Karena gaji saya hanya Rp 750.000 rupiah per bulan,” terangnya.