Menurut Anton, tidak perlu merantau ke pulau Jawa untuk kursus belajar menjadi seorang tukang mebel. Cukup mencari pengalaman dan belajar di tanah kelahiran sendiri dari orang Jawa yang merantau ke NTT.
“Banyak orang merantau dan menghabiskan banyak uang untuk mengetahui apa yang bisa kita belajar di daerah sendiri. Buktinya saya, bisa menghasilkan banyak kerajinan yang bagus, hasil belajar dari teman-teman orang Jawa di sini,” kata Anton.
Dari pengalaman belajarnya, kini Anton dapat menciptakan beragam model kerajinan dengan memanfaatkan bahan-bahan kayu yang dianggap tidak lagi bermanfaat.
“Saya manfaatkan dahan kayu dan akar kayu yang dianggap tidak berguna untuk diberdayakan dengan berbagai model, dan omzetnya mencapai puluhan juta per tahun,” ungkapnya.
Untuk proses pengerjaan, Anton menjelaskan, ia bisa mengambil contoh gambar dari google dan contoh pengerjaan merujuk pada youtube.
“Karena kebanyakan model saya ambil dari luar negeri ditambah dengan hiasan atau action kalau dalam bahasa mablenya yang saya sendiri terapkan supaya lebih menarik hasilnya,”ujarnya
Usaha tersebut digeluti sejak tahun 2009 di rumahnya dengan menerima pesanan berskala kecil. Ia juga memilih tidak pernah mengiklankan usahanya, karena khawatir pelanggan tidak puas setelah pesanan selesai dikerjakan.
“Jadi ketika orang pesan baru dikerjakan, sehingga terjadi rantai informasi dari orang ke orang. Sekarang sudah banyak yang pesan, termasuk kebutuhan bangunan mebel di hotel, pesanan dari luar Manggarai Barat, Manggarai Timur seperti Kidcenset yang dipesan seorang Kepala Dinas,” jelasnya.
Untuk kepuasan pelanggan, kata Anton, pasti ada plus minus yang harus diterima menjadi berkat dan rahamat. Kritikan menurutnya, sangat penting untuk membuatnya terus meningkatkan kemampuan.
Untuk melancarkan usahanya, Anton mempekrjakan dua orang adiknya yang masih duduk di bangku kuliah Unika St. Paulus Ruteng, karena mereka memiliki banyak waktu luang. Usaha tersebut juga dipersiapkan untuk adiknya di kemudian hari.







Tinggalkan Balasan