Ngada  

ITB–UB Perkuat Olahan Perikanan Lokal untuk Tekan Stunting di Ngada

ITB–UB Perkuat Olahan Perikanan Lokal untuk Tekan Stunting di Ngada. (Foto: Dok. Istimewa)

Bajawa, KN – Kabupaten Ngada menyimpan potensi perikanan yang besar, baik dari sektor laut maupun perairan darat. Di bagian utara, wilayah Riung berhadapan langsung dengan Laut Flores, sementara di selatan membentang Laut Sawu.

Kedua perairan tersebut merupakan jalur migrasi ikan-ikan pelagis bernilai ekonomi tinggi seperti cakalang, layang, dan tuna. Di sisi lain, perikanan air tawar—khususnya budidaya lele dan nila—menjadi sumber pangan strategis bagi masyarakat dataran tinggi seperti Bajawa dan Inerie.

Potensi tersebut sejatinya dapat menjadi penopang penting ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat. Namun, realitas di lapangan menunjukkan tantangan serius. Kabupaten Ngada masih dihadapkan pada persoalan stunting, sementara pemanfaatan ikan sebagai sumber protein bergizi belum optimal.

Ironisnya, ketersediaan sumber daya perikanan yang melimpah belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kualitas gizi keluarga.
Permasalahan ini tidak berdiri sendiri.

Keterbatasan pengetahuan, keterampilan pengolahan hasil perikanan, minimnya sarana pendukung, serta rendahnya akses pendampingan teknis membuat sebagian besar hasil perikanan masih dijual dalam bentuk segar. Akibatnya, nilai tambah produk rendah, daya simpan singkat, dan potensi pemanfaatan ikan sebagai pangan bergizi belum dimaksimalkan.

Melihat kompleksitas tersebut, kolaborasi lintas sektor dan lintas keilmuan menjadi keniscayaan. Dalam semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Brawijaya (UB) mengambil peran aktif dengan mengimplementasikan pengetahuan dan hasil riset akademik secara langsung ke tengah masyarakat Kabupaten Ngada.

Pada Juli 2025, tim pengabdian masyarakat ITB–UB memulai langkah konkret melalui pelatihan budidaya ikan lele dan kangkung dalam ember (budikdamber) yang menyasar kelompok PKK Kabupaten Ngada.

Program ini dirancang untuk mendorong kemandirian pangan rumah tangga, sehingga keluarga mampu menyediakan sumber protein secara berkelanjutan tanpa sepenuhnya bergantung pada fluktuasi pasokan pasar. Pendekatan berbasis keluarga ini diharapkan dapat menjadi fondasi awal dalam menekan stunting dari tingkat paling dasar.

Pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Anggota PKK yang telah mendapatkan pendampingan kemudian menjadi agen diseminasi di kecamatan masing-masing, menjadikan budikdamber sebagai program berkelanjutan yang dilaksanakan secara rutin.

Dampak kebijakan berbasis masyarakat inilah yang menjadi salah satu indikator keberhasilan program, meskipun tetap memerlukan pemantauan jangka panjang.
Memasuki Januari 2026, kegiatan berlanjut dengan fokus pada diversifikasi produk olahan ikan lele dan tongkol sebagai strategi pencegahan stunting di Bajawa.

BACA JUGA:  Bupati TTS Resmikan ISCE, Inisiatif 1000 Days Fund dan IshK Tolaram

Dinas Kelautan dan Perikanan setempat menyoroti bahwa rendahnya tingkat pengolahan ikan masih menjadi kendala utama pengembangan sektor perikanan lokal. Kurangnya keterampilan teknologi pengolahan menyebabkan hasil tangkapan dan budidaya belum mampu memberikan nilai tambah yang signifikan bagi masyarakat.

Sosialisasi dan pelatihan pengolahan ikan yang digelar pada Senin, 26 Januari 2026, bertempat di Rumah Bupati Kabupaten Ngada, menjadi ruang pembelajaran bersama antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Kegiatan ini mengombinasikan penyampaian konsep teoritis dengan praktik langsung pengolahan ikan berbasis potensi lokal. Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati dan Wakil Bupati Ngada, jajaran Dinas Perikanan, serta perwakilan PKK dari berbagai wilayah.

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Ngada, Wilbrordus Siga, S.E., menyampaikan harapannya agar kegiatan pendampingan ini dapat berlanjut dan berkembang. Ia menyoroti keberadaan fasilitas SMK Perikanan yang relatif lengkap, namun belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan pengetahuan teknis.

Apresiasi juga disampaikan oleh Ketua TP PKK Kabupaten Ngada, Ny. Blandina Mamo Bena. Ia menilai kegiatan sosialisasi pengolahan ikan sangat bermanfaat, khususnya bagi para ibu, dalam meningkatkan pemahaman tentang pemanfaatan ikan sebagai sumber gizi keluarga. Pengolahan ikan berbasis potensi lokal dinilai sebagai langkah nyata untuk mendukung pencegahan stunting dan mewujudkan keluarga yang lebih sehat dan sejahtera.

Ketua tim pengabdian, Ivonne Milichristi Radjawane, menegaskan bahwa keberhasilan program terletak pada sinergi yang terbangun antara akademisi, pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan, dan masyarakat. Menurutnya, kedekatan dan partisipasi aktif seluruh pihak menjadi modal penting dalam mengatasi stunting sekaligus meningkatkan nilai tambah produk olahan perikanan di Ngada.

Ke depan, Kabupaten Ngada diharapkan mampu mengembangkan pengolahan produk perikanan secara berkelanjutan sebagai salah satu pilar utama penurunan stunting. Pemanfaatan ikan lokal yang diolah menjadi pangan bergizi, aman, dan terjangkau dapat meningkatkan asupan protein hewani bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak.

Lebih dari sekadar meningkatkan nilai ekonomi, pengolahan perikanan yang terarah dan berkesinambungan berpotensi menjadi solusi konkret dalam memperbaiki kualitas gizi masyarakat dan menekan angka stunting secara signifikan. (*/ab)

IKUTI BERITA TERBARU KORANNTT.COM di GOOGLE NEWS