Bajawa, KN – Kabupaten Ngada menyimpan potensi perikanan yang besar, baik dari sektor laut maupun perairan darat. Di bagian utara, wilayah Riung berhadapan langsung dengan Laut Flores, sementara di selatan membentang Laut Sawu.

Kedua perairan tersebut merupakan jalur migrasi ikan-ikan pelagis bernilai ekonomi tinggi seperti cakalang, layang, dan tuna. Di sisi lain, perikanan air tawar—khususnya budidaya lele dan nila—menjadi sumber pangan strategis bagi masyarakat dataran tinggi seperti Bajawa dan Inerie.

Potensi tersebut sejatinya dapat menjadi penopang penting ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat. Namun, realitas di lapangan menunjukkan tantangan serius. Kabupaten Ngada masih dihadapkan pada persoalan stunting, sementara pemanfaatan ikan sebagai sumber protein bergizi belum optimal.

Ironisnya, ketersediaan sumber daya perikanan yang melimpah belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kualitas gizi keluarga.
Permasalahan ini tidak berdiri sendiri.

Keterbatasan pengetahuan, keterampilan pengolahan hasil perikanan, minimnya sarana pendukung, serta rendahnya akses pendampingan teknis membuat sebagian besar hasil perikanan masih dijual dalam bentuk segar. Akibatnya, nilai tambah produk rendah, daya simpan singkat, dan potensi pemanfaatan ikan sebagai pangan bergizi belum dimaksimalkan.