“Guru hanya menjadi fasilitator, mediator, dan akselerator. Namun peningkatan kualitas pendidikan adalah tanggung jawab kita semua,” katanya.

Mindriyati juga menyoroti capaian hasil ujian SD secara nasional, di mana NTT berada di posisi 36 dari 38 provinsi di Indonesia. Kondisi tersebut, menurutnya, harus menjadi motivasi bersama untuk melakukan pembenahan pendidikan secara serius.

“Ini menjadi cambuk bagi kita semua untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan. Banyak pekerjaan rumah yang harus kita lakukan, tetapi harus ada ide-ide besar yang digali dan dikolaborasikan bersama,” ungkapnya.

Sebagai Ibunda Guru NTT, ia berharap dapat mempererat kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat, keluarga besar PGRI, dan seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong pendidikan yang lebih maju dan inklusif di NTT.

Ia juga berencana membentuk kelompok kerja (pokja) Ibunda Guru, guna membantu peningkatan kualitas pendidikan di daerah tersebut.

“Kita harus menciptakan ekosistem pendidikan yang baik. Harus ada komunitas-komunitas lain yang turut mendukung terciptanya pendidikan bermutu dan anak-anak yang berkualitas,” tambahnya.