Melalui berbagai dialog dan sosialisasi yang diikutinya, Tadi mulai memahami proses pengembangan geothermal, termasuk upaya PLN dalam menjaga budaya dan ruang hidup masyarakat setempat.
“Saya akhirnya memahami bahwa pembangunan ini juga berupaya menghormati budaya masyarakat. Karena itu saya mencoba menjelaskan kembali kepada keluarga dan warga lain yang masih ragu,” katanya.
Hal senada disampaikan Ketua Gendang Desa Wewo, Hendrikus Ampak. Menurutnya, pemahaman masyarakat mulai terbentuk setelah memperoleh penjelasan langsung dari berbagai pihak, termasuk para ahli geothermal.
“Setelah sosialisasi dan penjelasan dari para ahli, kami mulai memahami bahwa geothermal merupakan energi bersih yang dapat menjadi solusi penyediaan listrik jangka panjang,” ujarnya.
Ia juga mengingat masa ketika banyak wilayah di Flores masih mengalami keterbatasan akses listrik dan masyarakat bergantung pada lampu pelita untuk penerangan sehari-hari.
“Setelah pembangunan berjalan dan pembangkit mulai beroperasi, kami akhirnya merasakan langsung manfaatnya. Kampung kami menjadi terang dan pasokan listrik di Flores semakin baik,” tambah Hendrikus.



Tinggalkan Balasan