Kupang, KN — Menjawab kekhawatiran masyarakat terkait kemunculan lumpur panas dan uap di sekitar Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) di Pulau Flores, ahli geothermal dari Universitas Gadjah Mada, Pri Utami, menegaskan bahwa fenomena tersebut merupakan proses alami yang menunjukkan adanya potensi panas bumi di wilayah tersebut.

Menurut Pri Utami, manifestasi panas bumi tersebut telah ada jauh sebelum aktivitas pengeboran proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi dilakukan.

“Manifestasi panas bumi merupakan ekspresi alami dari adanya panas di bawah permukaan bumi. Bentuknya bisa berupa mata air panas, kepulan uap, maupun lumpur panas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, lumpur panas yang muncul di permukaan terbentuk secara alami akibat proses geologi di dalam bumi. Fluida panas dari reservoir yang mendekati permukaan mengalami kondensasi dan berinteraksi dengan lapisan batuan, sehingga memunculkan fenomena lumpur panas.

Pri Utami menambahkan, manifestasi tersebut memiliki cakupan yang terbatas dan hanya muncul pada titik-titik tertentu, sehingga tidak menyebar luas baik di permukaan maupun di bawah tanah.