Menurut Heru, salah satu faktor utama yang membuat obligasi daerah menarik bagi industri perbankan adalah tingkat keamanan dan likuiditasnya yang dinilai kuat. Ia menilai mekanisme obligasi daerah nantinya akan memiliki karakteristik serupa dengan Surat Utang Negara (SUN) yang diterbitkan pemerintah pusat.

“Pengalaman saya di bidang treasury, hal pertama yang selalu kami lihat adalah risiko. Untuk obligasi daerah ini, kami melihat risiko likuiditasnya akan sangat baik dan terjaga karena jaminannya adalah negara atau pemerintahan, sehingga selama negara tidak bangkrut investor akan sangat yakin,” katanya.

Selain memberikan keamanan investasi, Heru menambahkan obligasi daerah juga memiliki keuntungan dari sisi regulasi perbankan. Instrumen tersebut dinilai memiliki bobot risiko rendah dalam perhitungan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR), sehingga membantu bank menjaga rasio kesehatan keuangan.

“Secara aturan atau regulasi, obligasi pemerintah itu risiko bobotnya sangat rendah dalam perhitungan untuk ATMR di perbankan. Sehingga, rasio-rasio kesehatan keuangan yang harus dijaga oleh bank akan menjadi lebih manageable dalam operasional sehari-hari,” jelasnya.