Ini hasil yang baik namun belum optimal. Usaha-usaha di sektor perikanan dan kelautan masih berskala kecil saat ini (produksi udang dan lobster di Sumba Timur dan garam di Rote belum dilaksanakan). Pemerintah Provinsi NTT telah merilis beberapa capaian yang dinilai menurut saya ‘masih cukup baik’ mengenai capaian negosiasi anggaran dari Pemerintah Pusat yang dialokasikan di NTT untuk beberapa sector. Namun hal itu belum bisa dinilai keberhasilan karena semua masih berupa angka dan belum dieksekusi, hasil atau capaiannya akan kelihatan, apabila semua itu telah ditransaksikan dan ditransmisi dalam sistim ekonomi NTT.

APBD dan APBN hanyalah trigger, sedangkan yang menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi adalah sisi konsumsi dan investasi. Jagung masih dijual mentah, sapi dijual hidup, rumput laut dijual raw material. Padahal keuntungan terbesar itu ada pada industri pengolahannya dan hilirisasi yang dapat ditransaksikan di Provinsi NTT.

Sangat disayangkan hal ini belum ada gebrakan nyata dalam keterbatasan fiscal daaerah, untuk dapat dioptimalkan. Daerah kita kalah 2 kali dalam menangani proses produksi dan distribusi, karena manakala semua barang mentah dikirim nantinya masuk kembali ke Provinsi NTT dengan biaya logistic yang mahal, dan distribusi yang panjang, sehingga berdampak pada harga jual yang terkerek naik. Hal ini otomatis berdampak kepada masyarakat NTT sebagai konsumen dari barang jadi tersebut dengan daya beli masyarakat yang rendah atau purchase power, dan di tengah ruang fiscal pemerintah provinsi yang terbatas saat ini guna melakukan intervensi terhadap kondisi-kondisi yang membutuhkan campur tangan pemerintah.