“ASN harus punya jiwa entrepreneur. Yang tidak boleh itu menyalahgunakan jabatan. Tapi kalau mengembangkan potensi daerah sesuai aturan, itu justru bagus,” katanya.

Menurutnya, keterlibatan ASN dalam menggerakkan ekonomi lokal dapat menjadi solusi untuk mempercepat pertumbuhan daerah.

Gubernur juga menyoroti belum optimalnya pemanfaatan program pusat di daerah. Ia mencontohkan potensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bisa mencapai sekitar Rp7 triliun di NTT, namun baru sebagian yang terealisasi.

“Masih ada potensi sekitar Rp4 triliun yang belum bisa kita manfaatkan. Ini harus kita kejar,” ujarnya.

Selain itu, ia menyinggung peluang besar investasi energi baru terbarukan, khususnya tenaga surya, yang dinilai sangat potensial dikembangkan di NTT.

“Potensi investasi bisa mencapai 6 sampai 7 miliar dolar. Ini peluang besar yang harus kita tangkap,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Program SKALA, Muhammad Saleh, menyampaikan bahwa program kerja sama antara Pemerintah Australia dan Pemprov NTT akan dilanjutkan hingga 2030 setelah melalui evaluasi.

“Ini menunjukkan kolaborasi berjalan baik. Kami akan terus mendukung penguatan tata kelola pemerintahan berbasis data dan akuntabilitas,” ujarnya.

Ia menegaskan, SKALA akan terus berkolaborasi dengan seluruh perangkat daerah di NTT untuk mendorong integrasi perencanaan dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

Menutup arahannya, Gubernur menekankan bahwa kegiatan seperti bimbingan teknis tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata dalam kinerja pemerintahan.

“Kegiatan seperti ini harus menghasilkan perubahan. Mindset berubah, cara kerja berubah, budaya kerja berubah. Kalau tidak, kita hanya buang waktu dan anggaran,” tegasnya.

Pemprov NTT berharap reformasi kinerja ini mampu meningkatkan efektivitas belanja daerah, memperkuat pelayanan publik, serta menjawab tantangan fiskal dan pembangunan di daerah secara lebih konkret dan terukur. (ocp/ab)