Dalam sesi diskusi, berbagai masukan strategis disampaikan peserta. Perwakilan Poltekkes Kupang menyoroti bahwa kasus stunting, wasting, dan gizi buruk masih berkaitan erat dengan faktor kemiskinan, sehingga diperlukan inovasi dan kolaborasi lintas sektor untuk menanganinya.

Usulan kerja sama riset dan program bersama antara Pemerintah Kota Kupang dan Poltekkes juga disampaikan sebagai langkah memperkuat intervensi kesehatan masyarakat.

Isu kekurangan tenaga kesehatan juga menjadi perhatian. Peserta mengusulkan agar pemerintah daerah memperluas program beasiswa bagi calon tenaga kesehatan guna menjawab kebutuhan layanan kesehatan di masa depan. Selain itu, gagasan pengembangan layanan telemedicine turut dibahas, dengan catatan bahwa ketersediaan infrastruktur jaringan harus menjadi perhatian utama.

Dari sektor pendidikan dan ketenagakerjaan, peserta menyoroti tantangan meningkatnya pengangguran intelektual. Kemampuan bahasa asing dinilai masih menjadi hambatan bagi lulusan yang ingin bersaing di pasar kerja internasional. Karena itu, muncul gagasan pembentukan ruang belajar bahasa asing berbasis komunitas sebagai wadah peningkatan kapasitas generasi muda.