Menurutnya, Budaya literasi itu harus tumbuh berawal dari keluarga atau dari orang-orang terdekat di rumah. “Bisa dilakukan dengan membaca buku, koran, atau majalah,” tambahnya.

Gubernur juga menaruh perhatian penting pada dampak buruk penggunaan handphone atau smartphone dan akses media sosial yang berlebihan terkhususnya bagi anak-anak.

”Penelitian terbaru dari banyak psikolog menunjukkan bahwa semakin sering anak-anak dan juga orang tua bermain handphone terlalu sering itu, akan berakibat juga dengan menurunnya kapasitas untuk memahami suatu hal ataupun menurunkan kemampuan mengingat. Nah, kita semua perlu melawan itu dengan membangkitkan budaya membaca yang lebih serius dan kembali sering membaca buku. Buku menjadi yang pertama dan terutama agar semakin menguatkan kemampuan literasi seseorang,” ungkapnya.

“Saya juga mengucapkan selamat buat Ibu Mindriyati Astininsi Leka Lena yang baru saja dikukuhkan. Selamat menjalankan amanat dan tugas menjadi Bunda Literasi NTT. Saya harapkan juga agar kalau bisa nanti mungkin per satu bulan itu ada kegiatan-kegiatan literasi yang menarik untuk anak-anak. Selain itu kembangkan juga program perpustakaan desa. Kita aktifkan kembali budaya baca, perpustakaan desa diaktifkan lagi biar nanti anak-anak kita bisa kembali suka baca dan suka tulis,” ungkapnya.

Gubernur juga mengungkapkan akan segera menerbitkan Peraturan Gubernur tentang Belajar Masyarakat. Pergub tersebut  untuk memastikan anak PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga mahasiswa untuk diberikan waktu tertentu setiap hari agar mereka bisa didorong atau diberikan ruang untuk membangkitkan kembali budaya membaca ataupun menumbuhkan kreativitas.

”Kita ingin agar minimal ada satu setengah jam setiap hari, kecuali di hari sabtu, dengan anak-anak dan keluarga itu didorong untuk duduk bersama, berkumpul untuk membaca ataupun bisa berdialog dan berdiskusi,” tandas Melki Laka Lena. (Biro Adpim)