Ia menguraikan, di lokasi Festival Budaya Kelurahan Bello, tersedia beraneka ragam olahan kuliner di lapak UMKM festival budaya ini. Di antaranya ada dagangan kudapan oleh pihak pemerintah Kelurahan Bello.
Ada pula olahan pangan lokal seperti jagung rebus, bubur kacang hijau, cimol dan kopi, oleh Pemuda Gereja Efata Bello dan produk UMKM pribadi warga Kelurahan Bello.
Merlin Bistolen, wanita berusia 21 tahun adalah salah satu pelaku UMKM lokal di Kelurahan Bello. Produk yang dijual biasanya keripik pisang cokelat namun karena keterbatasan ia hanya menjual cimol gurih di Festival budaya ini.
“Beta hobi masak dan jualan. Jadi pas ada festival begini beta manfaatkan hobi untuk jualan. Beta juga sering jualan sehari-hari tapi memang tidak setiap hari,” kisahnya.
Selama ini, ia mengaku hanya berjualan secara individu, mengandalkan lingkungan pertemanannya. Merlin mengaku bersyukur, bisa mendapatkan peluang berjualan di festival ini, sehingga bisa memperluas jangkauan konsumennya.
“Sejauh ini penjualan di festival bagus. Dari biasanya berbeda. Karena ini terfokus di satu venue dan event sedangkan biasanya jualan tergantung pesanan. Biasanya, karena dikenal teman-teman jadi biasa dibeli oleh kawan-kawan atau kenalan. Tapi kalau di sini konsumennya bisa lebih beragam karena masyarakat semua yang hadir bisa saja jadi pembeli,” jelas Merlin.



Tinggalkan Balasan