Di tengah keramaian itu, Wakil Wali Kota Kupang Serena Cosgrova Francies tampak tersenyum hangat. Bagi Serena, Festival Sepe bukan hanya acara tahunan, melainkan panggilan hati untuk merawat jejak budaya, yang menjadi identitas warga Kupang.

Tarian Tradisional Sepe dipentaskan dalam Festival Sepe 2025 (Foto: RKK/Koranntt.com)

Serena menyebut, bunga Sepe flamboyan merah yang bermekaran akhir tahun, bukan sekadar keindahan alam, tapi simbol harapan, sukacita dan kerinduan akan rumah.

“Ketika bunga Sepe mekar itu di setiap sudut-sudut kota di bulan November, itu mengingatkan anak-anak rantau untuk pulang sudah. Natal su dekat. Jadi kita seperti diingatkan untuk pulang kepada nilai-nilai persaudaraan, dan kasih yang menjadi dasar di kehidupan orang Kupang,” kata Serena. 

Ia menerangkan, Festival Sepe diselenggarakan, bukan sekadar untuk menampilkan pesona bunga flamboyan, tetapi untuk meneguhkan Sepe sebagai icon budaya dan identitas Kota Kupang.

“Melalui kegiatan ini, kita merawat warisan, menumbuhkan kebanggaan, dan menanamkan nilai-nilai budaya pada generasi muda, agar mereka mencintai daerahnya dengan cara yang kreatif dan bermakna,” terangnya.