Marthen menjelaskan, sedikitnya 20 pengusaha babi kini mengalami nasib serupa. Setiap pengusaha memiliki sekitar 30 ekor babi yang tertahan di Kupang, sementara mereka harus mengeluarkan biaya pakan harian cukup besar.

“Satu pengusaha bisa habiskan dua karung pakan per hari untuk 30 ekor babi. Harga pakan satu karung Rp270 ribu. Kalau ini berlarut-larut, kami bisa bangkrut sebelum babi sempat dijual,” ungkapnya.

Ratusan ekor babi tersebut rencananya akan dikirim ke beberapa daerah di Pulau Sumba seperti Sumba Barat, Sumba Barat Daya, dan Sumba Tengah.

Namun, karena jalur masuk utama ke Pulau Sumba melalui Pelabuhan Waingapu di Kabupaten Sumba Timur, pengiriman tidak bisa dilakukan tanpa izin resmi dari Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali.

Para pengusaha berharap agar pemerintah daerah dapat mengambil keputusan yang bijak dengan mempertimbangkan data kesehatan hewan yang sudah tersedia.

“Kalau memang ada aturan, tolong disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Kami sudah ikuti semua prosedur kesehatan hewan. Ini bukan soal babi saja, tapi soal keadilan bagi pengusaha kecil,” tegas Marthen.