Lebih lanjut Gubernur menekankan pelestarian dan perlindungan karya budaya akan terus didukung oleh pemerintah. “Upaya yang ditempuh oleh UPTD Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT melalui kegiatan Kemah Budaya ini akan memberikan ruang bagi terjalinnya relasi berkelanjutan antara masyarakat dan pemerintah dalam pemajuan kebudayaan,” kata Gubernur Melki.

Dalam momentum tersebut, Gubernur Melki Laka Lena juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi NTT sedang merumuskan peraturan untuk memperkuat jam belajar dan jam ibadah terkhusus bagi siswa siswi.

“Kami sekarang sedang rumuskan regulasi terkait jam belajar, yang didalamnya juga atur terkait quality time bersama orang tua, keluarga. Tujuan dari ini semua untuk membangun kualitas keluarga sebagai tiang pendidikan utama anak-anak dan pendekat hubungan dengan Tuhan,” terang Gubernur Melki.

“Karena itu, saya meminta kepada semua siswa siswi, para Guru dan kita semua yang hadir, untuk mendorong kebiasaan membaca, menulis, dan beribadah di rumah, dengan menyediakan waktu khusus pada pukul 17.30-19.00 dengan pengecualian pada hari Sabtu,” tambahnya.

Menurut Gubernur Melki, langkah-langkah yang Ia jelaskan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak perubahan yang signifikan, mengingat juga situasi dan kondisi saat ini menunjukkan peningkatan angka kasus HIV/AIDS, khususnya di kalangan usia produktif dan remaja.

“Situasi sekarang jika kita tidak awasi dengan ketat, jika tidak diatur dengan baik akan jadi bom waktu bagi kita semua. Apalagi sudah ada banyak kasus penyakit sosial hingga HIV/AIDS dikalangan pelajar khususnya. Hal ini jadi alarm bagi kita semua bahwa penguatan peran keluarga dalam membangun karakter, moral, dan pengawasan terhadap anak-anak sangatlah penting khususnya yang banyak dipengaruhi oleh penggunaan Smartphone tanpa pengawasan,” jelas Gubernur NTT.

Sehingga menurut Gubernur NTT, melalui penerapan jam belajar dan jam ibadah ini, akan menghadirkan ruang interaksi yang lebih hangat di dalam keluarga dalam membimbing dan mengawasi anak-anak supaya tidak ‘tersesat’ dalam penggunaan teknologi.