Menutup sambutannya, dr. Christian mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berkolaborasi dalam semangat kebersamaan dan harapan. Ia mengutip pesan dari tokoh disabilitas dunia, Helen Keller, yang mengatakan bahwa hal paling indah di dunia tidak selalu dapat dilihat atau didengar, tetapi dapat dirasakan dengan hati. “Karena itu, marilah kita terus bergerak bersama, dengan hati yang penuh harapan untuk mewujudkan Kota Kupang yang benar-benar ramah dan inklusif bagi semua,” tutupnya.
Sementara itu, Ketua Sinode GMIT, Pdt. Samuel Benyamin Pandie, S.Th., dalam sambutannya mengajak seluruh peserta dan jemaat untuk memandang isu disabilitas dengan cara pandang Kristus. “Kita mesti bersyukur karena melalui isu disabilitas, kita diajak untuk melihat dengan mata Kristus, melihat dengan kasih dan empati. Dalam setiap keterbatasan, sesungguhnya ada karya Kristus yang sedang dinyatakan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa GMIT bersyukur menjadi sinode pertama di Indonesia yang menggerakkan pelayanan disabilitas secara terstruktur hingga ke tingkat klasis. “PGI memang sudah mendorong gereja-gereja agar serius memperhatikan penyandang disabilitas, tetapi GMIT menjadi yang pertama mewujudkannya secara nyata. Ini bukti bahwa gereja sungguh hadir bagi semua, tanpa kecuali,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ketua Sinode menekankan bahwa perubahan menuju gereja inklusif harus dimulai dari perubahan cara pandang dan keberpihakan nyata. “Ruang inklusi harus diikuti keberpihakan anggaran. Gereja mesti memberi tempat dan dukungan bagi saudara-saudara disabilitas karena mereka diciptakan dengan keindahan dan martabat yang sama di hadapan Tuhan. Dari sinilah gereja belajar melihat seluruh keberadaan manusia sebagai karya indah Allah,” tutupnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Kupang, Yosef Lede, S.H., menyampaikan apresiasi kepada GMIT dan Pemerintah Kota Kupang atas inisiatif menghadirkan kegiatan yang meneguhkan nilai kesetaraan bagi penyandang disabilitas. Ia mengatakan bahwa tugas setiap pihak, baik gereja maupun pemerintah, adalah menjadi penolong bagi sesama dengan kapasitas dan kewenangan masing-masing. “Tugas kita yang sempurna adalah menjadi penolong bagi yang tidak sempurna. Semua punya bagian dan tanggung jawab sesuai perannya agar keadilan dan kesetaraan itu benar-benar dirasakan,” ujarnya.







Tinggalkan Balasan