Selain kedua narasumber, Dosen Fakulras Filsafat dan Agama Unwira Kupang, Dr. Watu Yohanes Vianey, M.Hum turut menyampaikan pandangan dan uraiannya terkait Sagi So’a dan Larik Riung.
Walaupun terkesan akademis, namun pemaparan dan diskusi berlangsung bersahaja. Bahasa yang digunakan populer dan mudah dicerna oleh sekitar 150 peserta yang terdiri dari IKADA Kota Kupang, akademisi, mahasiswa dan masyarakat umum.
Sesekali kalimat guyonan dilontarkan oleh para pembicara untuk mencairkan suasana. Para peserta juga aktif terlibat dalam diskusi dengan memberikan komentarnya. Tidak jarang para pembicara menyampaikan isi pikirannya dengan menggunakan bahasa asal daerahnya.
Mewakili IKADA Kota Kupang, Ketua Panitia Antonius Gili mengajak seluruh masyarakat Kota Kupang untuk datang, dengar, saksikan dan rasakan denyut budaya Sagi So’a dan Larik Riung yang bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi nyawa yang harus terus hidup di setiap langkah hidup kita.
Antonius juga menghimbau penggunaan beberapa kata dalam bahasa daerah yang harus diberi konteks. Seperti kata “no’o” yang dalam bahasa So’a berarti “dengan”. Namun secara bunyi bahasa sama dengan bahasa Kupang yang memiliki arti negatif. Mohon dimaklumi dan dimengerti konteks penggunaannya nanti pada saat tradisi lisan adat Dero-Sagi So’a.



Tinggalkan Balasan