“Walaupun tinju menimbulkan rasa sakit tapi Sagi So’a mengandung nilai budaya, sosial dan spiritual sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen, penanda rasa persaudaraan/kekeluargaan, dan penghormatan kepada leluhur,” jelas Bei.

Selanjutnya, giliran Pegiat Budaya Riung, Drs. Cyrilus Sungga yang membagikan pemahaman yang mendasar dan lengkap tentang Larik Riung. Mulai dari asal usul, akar mitologi, tahapan ritus, akar filosofis hingga perkembangan Larik Riung.

Larik riung adalah ritus adat yang menantang adrenalin karena melibatkan cambuk dan perisai.

Cyrilus menjelaskan sebetulnya lebih tepat disebut Melas Riung karena larik hanyalah satu alat dari budaya masyarakat etnis Riung ini. Hanya saja lantaran makna Melas sebagai ritus dianggap sakral dan memorial, masyarakat jadi lebih berani menyebutnya tradisi Larik Riung. Tradisi ini jadi populer dihubungkan dengan kesuburan dan ketahanan pangan.

“Generasi muda hari ini banyak yang tidak tahu makna dasar tradisi Larik Riung ini,” ujar Cyrilus sekaligus memberikan catatan pengingat kepada anak muda.

Selain kedua narasumber, Dosen Fakulras Filsafat dan Agama Unwira Kupang, Dr. Watu Yohanes Vianey, M.Hum turut menyampaikan pandangan dan uraiannya terkait Sagi So’a dan Larik Riung.

Walaupun terkesan akademis, namun pemaparan dan diskusi berlangsung bersahaja. Bahasa yang digunakan populer dan mudah dicerna oleh sekitar 150 peserta yang terdiri dari IKADA Kota Kupang, akademisi, mahasiswa dan masyarakat umum.

Sesekali kalimat guyonan dilontarkan oleh para pembicara untuk mencairkan suasana. Para peserta juga aktif terlibat dalam diskusi dengan memberikan komentarnya. Tidak jarang para pembicara menyampaikan isi pikirannya dengan menggunakan bahasa asal daerahnya.

Mewakili IKADA Kota Kupang, Ketua Panitia Antonius Gili mengajak seluruh masyarakat Kota Kupang untuk datang, dengar, saksikan dan rasakan denyut budaya Sagi So’a dan Larik Riung yang bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi nyawa yang harus terus hidup di setiap langkah hidup kita.