“Kalau bisa ditulis dalam sebuah buku khusus tentang Sagi dan Larik sehingga ada arsipnya. Dengan memohon rahmat Tuhan dan restu leluhur hari ini kita bersyukur dapat melaksanakan acara ini,” ujar Sipri.

Budaya sebagai warisan tradisi adat menjadi perekat nilai persaudaraan dan pusaka peradaban. Dalam keberagaman, ditangan kitalah adat dan tradisi dapat dipertahankan dan dilestarikan dalam keabadian.

Wakil Ketua Panitia Isidorus Lilijawa, S.Fil., MM menjadi moderator kegiatan ini. Dalam memandu diskusi, Isidoris memantik diskusi dengan cerita menarik tentang Sagi So’a dan Larik Riung.

“Kegiatan ini diselenggarakan untuk dua budaya yang bersinggungan dalam hubungan pergaulan adat istiadat dan kawin mawin di So’a dan Riung,” ujar Isidorus.

Pemantik materi dan diskusi lebih lanjut dipaparkan oleh para narasumber yang hadir. Pegiat Budaya So’a, Drs. Bei Marselinus, MM menerangkan tentang seluk beluk Sagi So’a. Berdasarkan pemaparannya Sagi So’a adalah tradisi tinju adat atau upacara tradisional yang berasal dari masyarakat So’a Kabupaten Ngada.