“Walaupun tinju menimbulkan rasa sakit tapi Sagi So’a mengandung nilai budaya, sosial dan spiritual sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen, penanda rasa persaudaraan/kekeluargaan, dan penghormatan kepada leluhur,” jelas Bei.
Selanjutnya, giliran Pegiat Budaya Riung, Drs. Cyrilus Sungga yang membagikan pemahaman yang mendasar dan lengkap tentang Larik Riung. Mulai dari asal usul, akar mitologi, tahapan ritus, akar filosofis hingga perkembangan Larik Riung.
Larik riung adalah ritus adat yang menantang adrenalin karena melibatkan cambuk dan perisai.
Cyrilus menjelaskan sebetulnya lebih tepat disebut Melas Riung karena larik hanyalah satu alat dari budaya masyarakat etnis Riung ini. Hanya saja lantaran makna Melas sebagai ritus dianggap sakral dan memorial, masyarakat jadi lebih berani menyebutnya tradisi Larik Riung. Tradisi ini jadi populer dihubungkan dengan kesuburan dan ketahanan pangan.
“Generasi muda hari ini banyak yang tidak tahu makna dasar tradisi Larik Riung ini,” ujar Cyrilus sekaligus memberikan catatan pengingat kepada anak muda.



Tinggalkan Balasan