Antonius juga menghimbau penggunaan beberapa kata dalam bahasa daerah yang harus diberi konteks. Seperti kata “no’o” yang dalam bahasa So’a berarti “dengan”. Namun secara bunyi bahasa sama dengan bahasa Kupang yang memiliki arti negatif. Mohon dimaklumi dan dimengerti konteks penggunaannya nanti pada saat tradisi lisan adat Dero-Sagi So’a.

Puncak perayaan budaya ini akan ditutup dengan Pentas Budaya Sagi So’a & Larik Riung pada Sabtu, (30/8/2025) yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Ngada (IKADA) Kupang berkolaborasi dengan UPTD Taman Budaya Gerson Poyk, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.

Ketua IKADA Kota Kupang Sipri Radho Toly mengucapkan terima kepada seluruh pihak yang terlibat dalam melancarkan kegiatan ini.

Ucapan terima kasih khusus disampaikan kepada Rektor Unwira Kupang Pater Dr. Stefanus Lio, SVD, M.A. dan Dekan Fakultas Filsafat Unwira Kupang RD. Drs. Yohanes Subani, Pr.Lic.Iur. Can. yang berkenan menyediakan tempat dan hadir dalam rangkaian acara ini. (*)