Laporan Reporter Agung Laba Lawa
Kupang, KN – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menetapkan September 2025 sebagai bulan vaksinasi hewan penular rabies, dan pembatasan pergerakan hewan peliharaan, khususnya anjing, untuk mencegah penyebaran penyakit rabies yang sudah mengkhawatirkan di wilayah ini.
Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT Yohanes Octovianus mengatakan, pihaknya akan melaksanakan vaksinasi rabies secara serentak di Kota Kupang dan Pulau Timor, dua wilayah yang menjadi daerah endemis rabies.
Masyarakat yang memelihara anjing, diminta untuk tidak melepasliarkan hewan peliharaan selama dua bulan ke depan agar proses vaksinasi berjalan lancar dan efektif.
Langkah ini sesuai dengan Instruksi Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena Nomor: 01/DISNAK/2025 tentang Pembatasan Pergerakan Hewan Penular Rabies di NTT. Pembatasan pergerakan atau lockdown ini bertujuan memutus rantai penularan virus rabies yang semakin meningkat.
“Kalau seluruh masyarakat melakukan lockdown seperti itu, virus rabies bisa kita kendalikan. Ditambah dengan vaksinasi, kita bisa membentuk herd immunity,” ujar Yohanes Octovianus.
Yohanes juga menyebutkan adanya kasus terbaru di Kelurahan Maulafa, Kota Kupang, di mana seekor anjing menggigit tujuh orang pada 14 Agustus 2025, menandakan bahwa virus rabies sudah mulai menyebar luas di Kota Kupang dan Pulau Timor.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kabid Kesmavet), drh. Melki Ansar MSc mengatakan, vaksin anti rabies untuk manusia dan anjing tersedia dalam jumlah cukup. Masyarakat diimbau menyiapkan hewan peliharaannya agar dapat divaksinasi selama bulan vaksinasi berjalan.
“Amankan dan ikat anjingnya, beri kesediaan untuk anjing diberi vaksin. Kami berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan. Kami amankan hewannya, kesehatan amankan manusianya. Jangan sampai ada orang yang meninggal,” tegas Melki.
Melki menjelaskan bahwa pada awal tahun 2025, vaksinasi sudah dilakukan dengan pemberian sekitar 10.000 dosis di Kota Kupang dan 60.000 dosis di Pulau Timor. Namun, jumlah tersebut masih belum mencapai target minimal 70% dari populasi anjing yang harus divaksinasi agar tercipta kekebalan kelompok (herd immunity).







Tinggalkan Balasan