“Ilmu harus menjadi akar yang menyatu dengan kehidupan masyarakat. Kampus hadir bukan hanya untuk mengajar dan meneliti, tetapi juga untuk mengabdi dan mentransformasi masyarakat,” tegasnya.
Melalui program KKN Tematik Gentaskin, lanjut Melki, mahasiswa diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu mengedukasi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesadaran tentang gizi, kesehatan keluarga, dan produktivitas ekonomi.
Mengutip data dari BPS dan Kementerian Kesehatan, Gubernur menyebut bahwa tantangan NTT saat ini cukup kompleks. Tingkat kemiskinan masih berada di angka 19,02%, kemiskinan ekstrem 2,82%, rata-rata lama sekolah 8,02 tahun, dan prevalensi stunting masih tinggi di 37,0%.
“Di mana ada stunting tinggi, di situ kemiskinan ekstrem juga terjadi. Ini dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Untuk itu, ia menekankan bahwa penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem tidak bisa dilakukan secara sektoral, melainkan membutuhkan kolaborasi menyeluruh antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga riset, BUMN, LSM, dan seluruh lapisan masyarakat.



Tinggalkan Balasan