ORASI ILMIAH
Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt pada acara Puncak Lustrum VI Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Sabtu, 14 Juni 2025 – Yogyakarta
Yang saya hormati, Pimpinan dan seluruh civitas akademika Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Para alumni, mahasiswa, dan tamu undangan yang saya banggakan.
Hari ini, saya kembali ke kampus yang telah menjadi titik awal perjalanan hidup saya-bukan sebagai mahasiswa yang tengah mempersiapkan ujian farmakologi atau sibuk menyusun laporan praktikum, tetapi sebagai seorang alumni yang datang membawa cerita.
Cerita tentang bagaimana ilmu yang saya pelajari di ruang kelas, nilai-nilai yang saya hayati di lorong-lorong kampus, dan iman yang tumbuh dalam proses pembentukan karakter, semua berpadu menjadi fondasi dalam menjalani panggilan hidup baik sebagai tenaga profesional, sebagai aktivis, sebagai legislator, hingga kini sebagai pemimpin daerah.
Saya berdiri di sini tidak hanya untuk memberi sambutan, tetapi untuk menyampaikan sebuah kesaksian bahwa seorang apoteker bisa bergerak melampaui sekat ruang praktik, bisa bersuara dalam forum-forum kebijakan publik, dan bisa berdampak nyata bagi perubahan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.
USD telah membentuk saya bukan hanya menjadi seorang lulusan farmasi, tetapi menjadi seorang manusia yang siap melayani dengan ilmu dan hati.
1. Dari USD ke NTT: Jejak Langkah yang Terbentuk oleh Nilai
Tiga dekade Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma bukan sekadar sebuah perayaan institusi, melainkan refleksi mendalam atas ribuan jejak langkah alumninya dan saya adalah salah satunya.
Saya masuk USD tahun 1996, sebagai seorang anak muda dari Kupang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta. Saya datang dengan semangat besar untuk belajar, dengan keinginan kuat untuk bertumbuh, dan dengan harapan untuk suatu hari bisa memberi arti bagi lebih banyak orang.
Di USD, saya belajar bukan hanya tentang farmakologi, fitokimia, dan galenik, tetapi juga tentang etika, cinta kasih, dan keberpihakan kepada mereka yang kecil, terpinggirkan, dan kurang bersuara. Saya belajar tentang bagaimana menjadi seorang apoteker bukan hanya berarti memahami rumus dan senyawa, tapi bagaimana kita menghadirkan harapan melalui pelayanan, bagaimana kita menjadikan ilmu sebagai sarana pengabdian.







Tinggalkan Balasan