Undang-undang ini bukan hanya menyederhanakan regulasi, tapi juga merekonstruksi fondasi sistem kesehatan nasional secara menyeluruh. Ini adalah reformasi sistemik yang menyatukan kebijakan kesehatan ke dalam satu kerangka hukum yang lebih tangguh, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan publik yang adil. Dan saya pastikan, suara tenaga kefarmasian termasuk apoteker tidak absen dalam proses pembahasan undang-undang ini. Kita perjuangkan bersama agar peran strategis apoteker tidak hanya diakui, tapi juga diperkuat dalam sistem kesehatan nasional.
Kini sebagai Gubernur NTT, semangat sinergi itu saya bawa ke lapangan. Kami tidak melihat pembangunan kesehatan secara sempit. Kami tidak melihat kesehatan sebagai entitas terpisah. Kami bangun rumah sakit pratama dengan memastikan ada akses listrik, air bersih, dan konektivitas jalan. Kami perkuat gizi keluarga sambil memberdayakan kelompok tani, UMKM pangan lokal, dan sekolah-sekolah. Kami bentuk kebijakan kesehatan yang terhubung dengan ekonomi lokal, pendidikan komunitas, dan pembangunan infrastruktur dasar.
Karena dalam realitas masyarakat, semua sektor itu saling berkait. Maka kebijakan pun tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Bagi saya, sinergi bukan sekadar duduk bersama dalam forum. Sinergi adalah spirit. Spirit untuk saling mendengarkan. Spirit untuk saling mendukung: mendengar lintas batas profesi, memahami keterbatasan sektor lain, dan membangun ruang temu yang menyatukan visi pelayanan. Dan yang paling penting, spirit untuk menyadari bahwa peran kita-sekecil apapun-adalah bagian penting dari sesuatu yang lebih besar: pelayanan untuk sesama dan kemajuan bangsa.
Karena di balik setiap langkah kecil yang kita ambil bersama, ada perubahan besar yang sedang kita siapkan untuk masa depan.
3. Bergerak: Kepemimpinan yang Tidak Diam
Farmasi bukan sekadar ilmu yang hidup di balik meja, Farmasi adalah gerak.
Gerak yang berpijak pada pengetahuan, namun menjangkau kenyataan di lapangan. Gerak menuju masyarakat yang membutuhkan. Gerak yang dimulai dari mendengar, memahami, dan bertindak untuk menghadirkan solusi nyata. Itulah semangat yang saya pegang ketika memulai amanah sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur. Saya dan Wakil Gubernur memilih untuk tidak memimpin dari balik meja. Kami hadir langsung di desa-desa. Kami menyapa kader posyandu, berbincang dengan bidan desa, berdialog dengan para kepala puskesmas, dan mendengar langsung dari warga tentang tantangan hidup mereka.









Tinggalkan Balasan