Simson menambahkan, konflik internal yang muncul dari dualisme kepemimpinan dapat melemahkan organisasi dan merusak citra PMI. Kepercayaan masyarakat terhadap PMI pun berisiko menurun. “Selain itu, proses penanganan bencana bisa terhambat, bahkan menyebabkan keadaan darurat,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya adanya mediator yang melibatkan berbagai komponen masyarakat untuk duduk bersama dan menyelesaikan masalah secara kekeluargaan demi mendukung program PMI dalam pelayanan kemanusiaan.
Harapan Penyelesaian
Dialog ini menegaskan bahwa penyelesaian dualisme kepemimpinan PMI Kota Kupang sangat penting untuk memastikan pelayanan kesehatan dan kemanusiaan dapat berjalan dengan baik tanpa hambatan.
Dekan UPG 1945 NTT berharap, para pihak terkait dapat segera menemukan titik temu agar Palang Merah Indonesia Kota Kupang dapat berfungsi optimal sebagai ujung tombak pelayanan sosial dan kesehatan di wilayah ini.
“Kami menawarkan ada beberapa solusi yaitu, kita membutuhkan mediator yang melibatkan berbagai komponen di masyarakat, untuk duduk bersama, menyelesaikan secara kekeluargaan untuk mendukung program PMI untuk kepentingan kemanusiaan,” pungkasnya. (*)



Tinggalkan Balasan