“Anak-anak dan masyarakat di wilayah rawan bencana harus mendapat penguatan kapasitas agar lebih siap menghadapi bencana. Aksi antisipatif perlu disosialisasikan secara rutin hingga ke level desa dan diintegrasikan dalam perencanaan kontingensi,” ujar Fransisco.
Acara yang berlangsung selama satu hari ini turut menghadirkan dialog lintas sektor antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tingkat provinsi dan kabupaten/kota di NTT bersama narasumber nasional. Fokus diskusi meliputi kebijakan nasional terkait AMPD, otoritas dalam deklarasi bencana, perlindungan sosial, serta perlindungan anak dalam situasi darurat.
Kegiatan ini dibuka oleh Staf Ahli Gubernur NTT bidang Politik dan Pemerintahan, Drs. Petrus Tahuk Seran, yang mewakili Gubernur NTT. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya sinergi antar-lembaga dalam upaya pengurangan risiko bencana demi mendukung pembangunan manusia di NTT. “Sinergitas adalah kunci. Dampak bencana bisa kita minimalisir jika semua pihak bekerja bersama,” tegasnya.



Tinggalkan Balasan