“Pancasila adalah benteng ideologis kita. Di NTT, kami hidup bersama dalam semangatnya—di pasar, sekolah, rumah ibadah, dan ladang petani kecil,” jelas Melki.
Ia menegaskan bahwa pembangunan di NTT dilakukan dengan pendekatan partisipatif dan berorientasi pada pengakuan martabat masyarakat.
“Kami tidak hanya menghafal Pancasila, kami menjalankannya. Kami membangun desa dengan gotong royong dan memastikan keadilan sosial hadir hingga ke titik terluar NTT,” katanya.
Menutup pidatonya, Melki menyerukan semangat kebangsaan dari NTT untuk Indonesia dan dunia.
“Mari kita warisi api semangat Bung Karno, bukan abunya. Dari Ende, kita nyalakan lilin peradaban. Dari Pancasila, untuk Indonesia dan dunia,” pungkasnya.
Seminar tersebut dihadiri oleh unsur Forkopimda, pimpinan perangkat daerah, camat, lurah, kepala desa, mahasiswa, pelajar, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, serta mitra kerja dari berbagai sektor. (Biro Adpim)



Tinggalkan Balasan