Kedua jelas RD. Yohanes; How can we use technology to promote informal and independent learning outside traditional educational settings?
“Pemanfaatan teknologi dimaksudkan untuk menggalakkan pembelajaran mandiri dan informal yang keluar dari pembelajaran tradisional, yang bergantung pada guru dan mengandalkan pembelajaran formal, terbimbing dan diatur-atur,” jelasnya.
Kemudian ketiga, How does technology transform education? Pemanfaatan teknologi bertujuan transformasi pendidikan, bukan destruksi pendidikan.
“Mendikdasmen Abdullah Mu’ti pagi-pagi memantik perhatian dunia pendidikan dasar dan menengah Indonesia dengan mengarahkan kita pada Deep Learning. Terdapat berbagai konsep Deep Learning. Dua yang mendasar dan menjadi perhatian kita adalah deep dalam artian lebih dini melek teknologi khususnya penggunaan algoritma AI sejak dini,” ujarnya.
RD Yohanes bilang, Ini tujuannya adalah agar peserta didik lebih dini menguasai teknologi untuk mengembangkan kompetensi dan kreativitas peserta didik dan menyiapkan peserta didik memasuki era persaingan global.
Kedua tambah dia, deep dalam artian bathin dan rohani yang menjadi identitas manusia. Teknologi pada galibnya instrumen, alat, dan mekanik yang bekerja mekanistis, sesuai hukum mesin. Bagaimana teknologi menjadi “humanistik” bergantung pada pengguna-nya.
Oleh karena itu lanjut dia, deep learning harus menjadi proses menjadikan peserta didik tuan atas teknologi, bukan budak teknologi.
“Media dan sarana teknologi belajar adalah sarana, bukan tujuan. Tujuan dasar pendidikan tetaplah memanusiakan manusia,” tandasnya.
Sementara keempat; How should we make real literacy first dan virtual literacy then? Yakni peserta dipanggil untuk mengembalikan literasi dan numerasi real pada tempat pertama.
Ia menyebutkan, negara-negara maju literasi dan numerasi, seperti Finlandia dan Norwegia, sejak memasuki dekade 3 abad 21 telah memutuskan mengutamakan literasi dan numerasi real daripada virtual. Pena dan buku tulis wajib dipakai sebagai sarana belajar.







Tinggalkan Balasan