“Misalnya dengan menanam padi gogo di hutan yang sudah dihijaukan. Satu hektare lahan kering bisa menghasilkan 3,5 ton beras. Jika kita cadangkan 1 juta hektare, maka 3,5 juta ton beras bisa diproduksi, mengurangi ketergantungan pada impor.

Selain itu, pohon aren yang disebut tanaman ajaib, mampu memproduksi 24 ribu ton bioetanol per hektare, berpotensi mengurangi impor BBM yang pada tahun 2023 mencapai 24 juta kilo ton,” jelasnya.

Penanaman 1 juta pohon ini juga dikaitkan dengan sejarah peringatan Hari Menanam Pohon yang diinisiasi Presiden Soeharto pada tahun 1993, sebagai langkah menjaga ketahanan air.

Gerakan Hijau Sejuk untuk NTT yang Sehat

Dalam kesempatan yang sama, Penjabat Gubernur NTT, Dr. Andriko Noto Susanto, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia mengajak masyarakat menjaga bibit yang telah ditanam demi kelestarian lingkungan.

“Gerakan ini sangat penting untuk menghadapi isu perubahan iklim, kemiskinan, dan ketahanan pangan. Kami sudah menerbitkan Surat Edaran tentang ‘Gerakan Hijau Sejuk Nusa Tenggara Timur Ku’ sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang lebih sehat, dengan harapan NTT Bisa, NTT Maju, dan NTT Sejahtera,” tegasnya.